Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat Kantor PT Lamataesso Mattappa, Watansoppeng, itu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tim peneliti Universitas Hasanuddin, manajemen Perseroda PT Lamataesso Mattappa selaku pengelola Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) Soppeng, direksi kawasan, tim teknis, hingga para pelaku usaha rokok yang menjadi bagian penting dalam ekosistem industri tersebut.
Tim peneliti Universitas Hasanuddin yang terlibat terdiri atas Prof. Dr. Indrianty Sudirman, SE., M.Si, Dr. Romi Setiawan, SE., MSM, Farhanah Ramdhani Sumardi, SE., MM, Muhammad Darwis, S.Pt., M.Si, Muhammad Faizal Ramli, S.Tp, M. Iqbal, SE, serta Ananda Lukman.
Dalam forum yang berlangsung dinamis tersebut, para peserta membahas empat isu krusial yang menjadi penopang pengembangan SIHT Soppeng, yakni profil kawasan dan aspek tekno-ekonomi, profil tenant, produksi dan analisis pasar, rantai pasok serta standarisasi mutu, hingga dokumentasi dan arsitektur data digital.
Anggota tim peneliti, Dr. Romi Setiawan, menjelaskan bahwa FGD ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan upaya menggali kondisi nyata di lapangan agar sistem yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan industri.
“FGD ini kami laksanakan untuk mendapatkan gambaran kondisi riil secara langsung dari pelaku usaha dan pengelola kawasan. Data dan informasi yang diperoleh akan menjadi dasar dalam merancang implementasi S-TIE yang sesuai kebutuhan SIHT Soppeng,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan transformasi industri tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan sistem dalam menjawab tantangan dan kebutuhan para pengguna.
“Keberhasilan sebuah sistem tidak ditentukan oleh teknologinya, tetapi sejauh mana sistem tersebut mampu menjawab kebutuhan penggunanya. Karena itu, masukan pelaku usaha menjadi kunci dalam proses ini,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Direktur Utama Perseroda PT Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, menilai FGD ini sebagai langkah awal yang sangat penting dalam perjalanan transformasi industri hasil tembakau di Soppeng.
Ia menyebut, pembangunan ekosistem terintegrasi melalui S-TIE akan menjadi instrumen penting dalam memperkuat model bisnis kawasan, memperbaiki rantai pasok, serta mendorong digitalisasi data yang selama ini menjadi kebutuhan utama industri modern.
“FGD ini sangat strategis karena menjadi titik awal membangun sistem terintegrasi, mulai dari model bisnis, rantai pasok hingga digitalisasi data. Hasilnya diharapkan memperkuat daya saing SIHT Soppeng secara berkelanjutan,” katanya.
Musdar juga menekankan pentingnya sinergi antara kalangan akademisi, pengelola kawasan, dan pelaku usaha. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih efisien, kompetitif, dan mampu bertahan menghadapi dinamika pasar.
Melalui forum ini, para peserta diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai peluang perbaikan dan pengembangan, mulai dari penguatan model bisnis kawasan, integrasi pasar yang lebih luas, hingga optimalisasi teknologi informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan berbasis data.
FGD implementasi S-TIE menjadi bagian dari langkah besar yang tengah ditempuh SIHT Soppeng dalam membangun masa depan industri hasil tembakau yang lebih modern dan berkelanjutan. Dengan dukungan inovasi, kolaborasi, dan transformasi digital, kawasan ini diharapkan mampu tumbuh sebagai salah satu sentra industri hasil tembakau unggulan yang memiliki daya saing kuat, baik di tingkat regional maupun nasional.
0 Komentar